Enkode Data
Sunday, November 12, 2017
0
comments

Teknik Enkoding dan Modulasi
- Enkoding ke sinyal digital

- Modulasi ke sinyal analog

1 - Data Digital ► Sinyal Digital
Sinyal digital adalah sekuen diskrit dari pulsa tegangan yang diskontinu. Setiap pulsa merupakan elemen sinyal.Data biner ditransmisikan dengan mengkodekan setiap bit data menjadi elemen sinyal
Skema pengkodean: Memetakan dari bit data ke elemen sinyal
Istilah transmisi data
| Istilah | Satuan | Definisi |
|---|---|---|
| Data element | bits | |
| Data rate | bits per second (bps) | |
| Signal element | Digital: a voltage pulse of constant amplitude Analog: a pulse of constant frequency, phase, and amplitude |
|
| Signaling rate atau modulation rate | Signal element per second (baud) |
Berbagai skema pengkodean
Faktor-faktor evaluasi
- Spektrum sinyal: bandwidth kurang, tidak ada komponen dc, bentuk spektrum (lebih baik ke pusat di tengah bandwidth)
- Clocking: kemampuan self clocking diinginkan untuk sinkronisasi
- Deteksi kesalahan: lebih baik memiliki kemampuan deteksi error
- Sinyal gangguan dan kekebalan kebisingan:
- Biaya dan kerumitan
RZ (Return to Zero)
- 0: pulsa positif
- 1: pulsa negatif
- Sinyal kembali ke nol setelah setiap bit yang dikodekan
NRZ (Nonreturn to Zero)
Level tegangan konstan selama interval bit (tidak kembali ke tingkat tegangan nol)NRZ-L (NRZ Level)
- 0: tegangan positif
- 1: tegangan negatif
NRZ-I (NRZ Inverted)
- sebuah bentuk pengkodean diferensial
- 1: transisi pada awal interval bit
- 0: tidak ada transisi
- NRZ sederhana, dan efisien dalam penggunaan bandwidth
- Keterbatasan NRZ
- adanya komponen dc
- kurangnya kemampuan sinkronisasi
Multilevel Binary
Bipolar-AMI (Alternate Mark Inversion)- Tiga level tegangan (positif, zero, negatif)
- 0: tegangan nol
- 1: bergantian dengan tegangan positif dan negatif
- Sinkronisasi yang lebih baik daripada NRZ
- Tidak ada komponen DC
- Kemampuan deteksi error
Pseudoternary
- Sama seperti bipolar-AMI, kecuali representasi 0 dan 1 yang dipertukarkan
Biphase
- Selalu transisi di tengah setiap interval bit
- Manchester
- 0: transisi tinggi ke rendah
- 1: transisi rendah ke tinggi
- Differential Manchester
- 0: transisi pada awal interval bit
- 1: tanpa transisi
- Kemampuan sinkronisasi dan deteksi kesalahan, dan tidak ada komponen dc
Definisi format pengkodean sinyal digital
- Nonreturn-to-Zero-Level (NRZ-L): 0 = high level, 1 = low level
- Nonreturn-to-Zero Inverted (NRZI): 0 = no transition at beginning of interval (one bit time), 1 = transition at beginning of interval
- Bipolar-AMI: 0 = no line signal, 1 = positive or negative level, alternating for successive ones
- Pseudoternary: 0 = positive or negative level, alternating for successive zeros, 1 = no line signal
- Manchester: 0 = transition from high to low in middle of interval 1 = transition from low to high in middle of interval
- Differential Manchester: Always a transition in middle of interval
- 0 = transition at beginning of interval
- 1 = no transition at beginning of interval
- B8ZS: Same as bipolar AMI, except that any string of eight zeros is replaced by a string with two code violations
- HDB3: Same as bipolar AMI, except that any string of four zeros is replaced by a string with one code violation

Laju Modulasi
- Data rate (dinyatakan dengan bps) = laju modulasi (atau kecepatan sinyal atau kecepatan transisi sinyal) (dinyatakan dalam baud) dikalikan jumlah bit per elemen sinyal.
- Normalisasi kecepatan transisi sinyal dari berbagai skema pengkodean
Kepadatan spektral dari berbagai skema pengkodean sinyal ditunjukkan pada gambar grafik berikut;

2 - Data Digital ► Sinyal Analog
¢Enkoding adalah dengan modulasi sinyal pembawa sinusoidal kontinyu. Ini melibatkan perubahan beberapa karakteristik dari sinyal pembawa - amplitudo, frekuensi, atau fase.¢Beragam teknik enkoding seperti, ASK, FSK, PSK, ...
| ASK | FSK | (Diff.) PSK | |
| Binary 1 | cos(2pfct + qc) | A cos(2pf1t + qc) | A cos(2pfct + 180°) |
| Binary 0 | - | A cos(2pf2t + qc) | A cos(2pfct) |
- QPSK(Quadrature PSK)
- – Each signal element represents two bits
- PSK using 12 angles and two amplitudes
- – 9,600 bps modem (2,400 baud x 4)
3 - Data Analog ► Signal Digital
PCM (Pulse Code Modulation)¢Berdasarkan Teorema Sampling Nyquist: Jika sebuah sinyal secara berkala diambil sampelnya pada tingkat ³ dua kali komponen frekuensi tertinggi yang signifikan dalam sinyal, maka dapat direkonstruksi dari sampel dengan menggunakan filter low-pass
DM (Delta Modulation)
¢Menggunakan "n" = 1, contoh: sinyal digital biner dihasilkan; "0" berarti perubahan -d dan "1" untuk perubahan + d.
¢Tingkat sampling yang lebih tinggi daripada PCM (tingkat Nyquist) diperlukan, namun masing-masing sampel hanya menggunakan 1 bit dan bukan n.
¢Implementasi jauh lebih sederhana dibanding PCM.
4 - Data Analog ► Signal Analog
AM (Amplitude Modulation)Alasan
- Sinyal analog frekuensi rendah tidak dapat ditransmisikan pada media yang tidak terpandu. (akan membutuhkan antena dengan diameter km) -> frekuensi yang lebih tinggi diperlukan.
- Untuk FDM (Frequency Division Multiplexing)
5 - Spread Spectrum
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Enkode Data
Ditulis oleh Mas Sam
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://komunikasidatasamodro.blogspot.com/2017/11/enkode-data.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Mas Sam
Rating Blog 5 dari 5




0 comments:
Post a Comment